MEFOSAMPUANO TEWUNI; TRADISI RITUAL MASYARAKAT KIOKO KECAMATAN BONEGUNU KABUPATEN BUTON UTARA
Keywords:
Mefosampuano Tewuni, Tradisi, Ritual, Masyarakat KiokoAbstract
Penelitian ini mengkaji dan mengungkapkan tradisi mefosampuano tewuni sebagai ritual pengobatan masyarakat masyarakat Desa Kioko Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara dengan tujuan: untuk mengetahui latar belakang adanya tradisi mefosampuano tewuni, tata cara pelaksanaan tradisi mefosampuano tewuni dan nilai yang terkandung dalam tradisi mefosampuano tewuni.
Penelitian ini adalah penelitian sosial budaya dengan menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan di Desa Kioko Kecamatan Bonegunu Kabupaten Buton Utara dengan bertumpu pada pendekatan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang adanya tradisi ritual mefosampuano tewuni adalah sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap tewuni (ari-ari). Selama dalam kandungan rahim ibunya tewuni (ari-ari) telah banyak membantu sebagai perantara asupan makanan dan pasca kelahiran sudah sepantasnya diperlakukan layaknya bayi anak manusia dan tidak dibuang begitu saja. Tentang kapan adanya tradisi ritual mefosampuano tewuni, tidak dapat diketahui dengan pasti, mengingat tradisi ini telah tersimpan dalam memori kolektif masyarakat yang diturunkan secara turun-temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi. Proses pelaksanaan tradisi ritual mefosampuano tewuni dilaksanakan dalam 3 tahab, yaitu: Tahab persiapan, bhisa (dukun beranak) meminta keluarga yang akan melaksanakan ritual mefosampuano tewuni menyiapkan bahan kelengkapan ritual sebagaimana yang disyaratkan. Tahab pelaksanaan, setelah bayi lahir, tewuni (ari-ari) dibersihkan oleh dukun beralaskan daun libo, ari-ari di masukan kedalam tempurung kelapa kemudian ditutup dengan tempurung kelapa atasannya. ari-ari yang sudah dimasukan dalam tempurung diikat rapat dengan rotan kemudian dibungkus dengan kantong plastik. Lubang untuk mengubur ari-ari digalih oleh si bapak. dalamya sekitar satu lengan. Tahap penutup, tewuni (ari-ari) yang telah terbungkus dibawa oleh sang ibu dengan digendong menyamping di pinggang dan dikuburkan oleh bhisa. lalu dimasukan ke dalam lubang tanah dan ditimbun. Nilai yang terkandung dalam tradisi mefosampuano tewuni adalah nilai budaya yaitu suatu pandangan hidup yang dimiliki oleh masyarakat Kioko dan akan diwariskan secara turun temurun; nilai sosial yang terkandung dalam tradisi mefosampuano tewuni dapat dilihat pada saat proses penguburan tewuni (ari-ari) bhisa dan anggota keluarga saling membantu di dalam proses pelaksanaan tradisi ritual mefosampuano tewuni.; nilai religi yaitu dalam kepercayaan masyarakat setempat tradisi mefosampuano tewuni juga dipercaya sebagai ritual pengobatan agar anak bayi yang baru terlahir terhindar dari roh-roh jahat dan hidup tenang masa pertumbuhannya.
Downloads
References
Agus, Bustanuddin. (2007). Agama dalam Kehidupan Manusia. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Aryono, Suryono. (1985). Kamus Antropologi. Jakarta: Persindo.
Departemen Pendidikan Nasional. (2000). Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi ke-3. Jakarta: Balai Pustaka.
Esten, Mural. 1992. Tradisi dan Modernitas dalam Sandiwara. Jakarta: Intermasa.
Gazalba Sidi, (1981). Tradisi dan Pembangunan. Jakarta: Bina Aksara.
Hasibuan, Sofia Rangkuti,. (2002). Manusia dan Kebudayaan di Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat.
Keesing, Roger M, (1992). Antropologi Budaya: Suatu Perspektif Antropologi. Kontemporer. Erlangga.
Koentjaraningrat. (1985). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
………….... (1985). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.
Mardimin, Johanes. (1994). Jangan Tangisi Tradisi. Yogyakarta: Kanisius.
Miles, Mattew B. & A. Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. Buku Sumber Tentang Metode-Metode Baru. Jakarta: UIP
Moleong. Lexy J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Soelaiman, (1993). Sistem Nilai Budaya. Jakarta: Bina Aksara
Soemardjan Selo dan Solaeman Soemardi. (1964). Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta: UI Pers.

