TRADISI PIKARIA’A MASYARAKAT CIA-CIA LAPORO KELURAHAN KOMBELI, KECAMATAN PASARWAJO, KABUPATEN BUTON

Authors

  • Rustam Awat

Keywords:

Tradisi, Pikaria’a, Cia-Cia Laporo, Kombeli, Buton

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh  keingintahuan penulis untuk memahami lebih mendalam tentang proses dari tradisi pingitan (pikaria’a) pada gadis-gadis di masyarakat Cia-Cia Laporo Kelurahan Kombeli, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, sehingga mendorong penulis untuk melakukan penelitian dengan tujuan; 1) Untuk mengetahui latar belakang pelaksanaan tradisi pikaria’a pada masyarakat Cia-Cia Laporo, 2) Untuk mengetahui proses pelaksanaan tradisi pikaria’a, 3) Untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pikaria’a.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian budaya dengan jenis pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer (data yang diperoleh dari informan) dan sekunder (data yang di peroleh dari berbagai literatur berupa buku-buku, jurnal-jurnal ilmiah maupun hasil penelitian yang berhubungan dengan tradisi pingitan). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka, studi lapangan, dan wawancara.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Latar belakang pelaksanaan tradisi pikaria’a pada masyarakat Cia-Cia Laporo, di Kelurahan Kombeli merupakan tradisi turun-temurun yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat dengan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyu, seorang ulama besar Buton yang hidup pada pertengahan abad ke-19. Ritual pikaria’a dilakukan sebagai sarana peralihan status remaja bagi seorang gadis menjadi dewasa dan sebagai metode menguji kesucian seorang gadis yang dilaksanakan setiap tahun. 2) Proses pelaksanaan tradisi pikaria’a pada masyarakat Cia-Cia Laporo di Kelurahan Kombeli, dilakukan dalam tiga tahap yaitu: a) Tahap Persiapan yang berawal dari musyawarah atau rapat yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat setempat untuk membentuk kepanitiaan kegiatan pikaria’a hingga penentuan hari. Selain itu terdapat persiapan-persiapan sebelum para peserta pikaria’a masuk ke dalam kelambu (kurungan) di antaranya yaitu: telur satu butir yang disimpan di atas piring yang berisi beras, uang kertas, jagung empat buah, kelapa satu buah yang di atasnya dililit kapas (benang kapas), pinang 3, 5, dan 7 buah,  kunyit, dan air tobat. b) Tahap Pelaksanaan yaitu berawal dari masuknya para peserta pikaria’a ke dalam kurungan berupa kelambu selama 8 hari 8 malam. Di mana dari malam pertama sampai malam kedelapan terdapat kegiatan-kegiatan yang dilakukan seperti pibura (memakai bedak dari campuran tepung beras dan kunyit), mandi wajib, dan mendengarkan nasehat-nasehat dari bhisa/lebe mowine (dukun perempuan). Namun seiring perkembangan zaman, tradisi pikaria’a kini juga dilaksanakan selama 2 (dua) hari 2 (dua) malam saja, namun tahap-tahapnya sama persis dengan tahapan pelaksanaan 8 hari 8 malam dimana pada malam pertama tahapannya digabung dari malam pertama sampai malam kedua, sedangkan malam kedua tahapannya digabung dari malam ketiga sampai malam kedelapan. c) Tahap Penutup yaitu peserta pikaria’a keluar dari kurungan dan dilanjutkan dengan ritual pengukuhan atau penobatan yang dilaksanakan di depan rumah dengan dihadiri oleh tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemerintah, serta masyarakat setempat. 3). Nilai yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi pikaria’a pada masyarakat Cia-Cia Laporo yaitu: pembinaan mental berupa pemberian petuah-petuah atau nasehat-nasehat etika dan akhlak menurut kaidah-kaidah islam dan pemahaman tentang statusnya sebagai gadis dewasa yang harus bersikap dan bertindak sesuai norma di tengah masyarakat pada umumnya dan dalam keluarga (rumah tangga) pada khususnya. Pembinaan fisik melalui hal-hal yang menyangkut kegiatan praktis peserta pikaria’a tentang berperilaku dan berpenampilan fisik yang cantik sebagai seorang gadis dewasa nantinya misalnya: a.) perawatan melalui tata cara pibhaho (membersihkan diri), pikunde’e (keramas dengan santan), pibura (memakai bedak) luluran tepung beras dan kunyit. b.) pengaturan perilaku atau gerak fisik melalui latihan cara duduk yang benar, cara berjalan, dan cara tidur.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Alfian. 1979. Politik Kebudayan dan Manusia Indonesia. Jakarta: LP35.

Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Harsojo. 1967. Pengantar Antropologi. Bandung: Bina Cipta.

Gazalba, Sidi. 1968. Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu. Jakarta Antar Pustaka

Kartodirjo, Sariono. 1993. Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia.

Koentjaraningrat. 1986. Ritual Peralihan di Indonesia. Jakarta: Balai pustaka.

Koentjaraningrat, 2005. Pengantar Antropologi I. Jakarta: Rineka Cipta.

Koentjaraningrat. 1992. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Moleong, Lexy J. 1995. Metode Penelitian Kualitatif, remaja Rosdakarya. Bandung.

Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Poerwadarminta. 1990. KBBI. Jakarta : Balai Pustaka.

Soemardjan, Selo dan Solaeman Soemardi. 1964. Setangkai Bunga Sosiologi, Jakarta: UI Press.

Soekanto, Soerjono. 2003. Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Downloads

Published

2026-03-28